
Petualangan Cinta: Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim & Ismail a.s.
(Manasik Haji SD Islam Sabilina 2026)
pada 24–25 April 2026 tepat hari Jum’at dan Sabtu di SD Islam Sabilina, yang berada di Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi., mengadakan kegiatan yang spesial yaitu Manasik Haji dengan tema “Petualangan Cinta: Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim & Ismail”. Manasik Haji bukan sekadar simulasi ibadah, melainkan sebuah perjalanan batin yang penuh makna. Maka, SD Islam Sabilina menghadirkan pengalaman ini dalam rangkaian kegiatan yang dirancang bukan hanya sekedar mengenalkan praktik haji, tetapi juga menanamkan nilai ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Pertama: Dari Gerbang Menuju Kakbah Mini
Di sore yang cerah itu, siswa datang dengan penuh semangat. Mereka belajar disiplin sejak awal: menata barang di kamar masing-masing dengan tertib. Lalu, melalui registrasi “Miqat”, anak-anak mengenakan kain ihram, melafalkan niat, dan merasakan simbolisasi meninggalkan kebiasaan lama untuk menyucikan diri. Pesan karakter yang ditanamkan jelas: keberanian memulai langkah baru dengan hati yang bersih.
Shalat Ashar dilakukan dengan berjama’ah menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam ibadah lebih utama. Dilanjutkan dengan praktik Thowaf Qudum di sekitar miniatur Kakbah. Anak-anak berkeliling dengan penuh doa, belajar tentang kesabaran dan kegigihan
Puncak sore hari adalah pembukaan “Talbina”, siswa berkreasi melagukan lafadz talbiyah dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Belajar agama tidak harus kaku; justru dengan kreativitas, kegembiraan, anak-anak lebih mudah menghafal dan mencintai lafadz suci. Setelah itu, mereka diajak mengekspresikan kisah “Pasukan Gajah” melalui teater kinestetik. Bukan sekadar mendengar cerita, tetapi merasakan perjuangan Abdu Muthalib dan penjaga kakbah melawan Raja Abrahah. Nilai keberanian dan keteguhan iman serta kepasrahan tersampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Menjelang malam, kegiatan Wukuf di Arafah mengajak siswa mendengarkan nasehat dan sharing dengan Ibunda Hajjah Farida Usriyah selaku Pembina Yayasan sekaligus orang yang pernah tinggal di Makkah beberapa Tahun dan pernah melaksanakan haji dan umrah puluahn kali. Bebagi pengalam yang menginspirasi dengan penyampaian yang ringan, bersahabat dan menyenangkan akan memberikan pengaruh kuat pada diri siswa dan siswi Sabilina. Makan malam bertema padang pasir, berganti baju, hingga menonton 3D kota Makkah dan Madinah membuat suasana semakin hidup. Anak-anak juga berbagi pengalaman umrah, lalu mencari kerikil untuk simbol lontar jumrah—sebuah latihan melawan hawa nafsu. Malam ditutup dengan istirahat sambil mendengarkan murrotal, menenangkan hati sebelum tidur.

Hari Kedua: Puncak Spiritualitas
Pagi buta, siswa bangun untuk Qiyamul Lail. Mereka belajar merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta dalam keheningan. Dilanjutkan dengan muhasabah, sebuah sesi refleksi yang mengajarkan pentingnya mengenali diri dan memperbaiki niat. Shalat Subuh berjamaah menjadi penguat kebersamaan spiritual.
Puncak acara tiba: Thowaf Ifadah, Sa’i, Lontar Jumrah, dan Tahallul. Semua kegiatan dipimpin guru, namun anak-anaklah yang menjadi aktor utama. Mereka berlatih mengalahkan setan dan sifat buruk, lalu menutupnya dengan tahallul sebagai simbol kesucian diri. Setelah itu, praktek shalat Idul Adha dan penjelasan penyembelihan kurban menanamkan nilai pengorbanan dan kepedulian sosial.
Sarapan bersama menjadi jeda hangat sebelum kuis “Cerdas Cermat Haji”. Dengan format permainan, siswa mengulang kembali materi yang sudah dipraktikkan. Belajar terasa menyenangkan, sekaligus memperkuat ingatan. Sesi refleksi menutup rangkaian dengan mengajak anak-anak menuliskan kesan dan pelajaran yang mereka dapat.
Akhirnya, penutupan dilakukan dengan pengumuman “Kelompok Jamaah Haji Teladan”. Sertifikat dan goodie bag berisi air zamzam dan coklat menjadi kenangan indah yang dibawa pulang. Lebih dari sekadar hadiah, itu adalah simbol perjalanan spiritual yang akan mereka ingat sepanjang hidup.
Pesan Pendidikan Karakter
Dari seluruh rangkaian, jelas terlihat bahwa manasik haji bukan hanya simulasi ritual, melainkan sarana membentuk karakter. Anak-anak belajar disiplin sejak kedatangan, keikhlasan melalui niat ihram, kebersamaan lewat shalat berjamaah, keberanian melalui teater kinestetik, serta rasa syukur dalam wukuf dan refleksi. Puncak acara mengajarkan pengendalian diri, pengorbanan, dan cinta kepada Allah serta sesama.
Dengan pendekatan yang enyenangkan dan kreatif—lagu, drama, permainan, hingga pengalaman langsung—pesan karakter tersampaikan dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya memahami tata cara haji, tetapi juga merasakan nilai-nilai yang akan membentuk pribadi mereka: taat, sabar, ikhlas, berani, dan penuh kasih sayang.
Semoga kegiatan seperti ini, terus bisa dikembangkan dan dikreatifisasikan dengan cara yang menyenangkan tanpa meninggalkan tujuan utama dalam pendidikan, tentunya dalam rangka membentuk generasi yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.
Bekasi, 25 April 2026
Khoerudin, S.H.I. (Guru SD Islam Sabilina)