
Semangat Sumpah Pemuda Menggema di Pentas Seni SD Islam Sabilina
BEKASI – Kemeriahan menyelimuti Gedung Pandan Sari pada Sabtu, 13 Desember 2025. Ratusan siswa, guru, beserta orang tua murid berkumpul untuk menyaksikan gelaran Pentas Seni (Pensi) Tahunan yang kali ini mengusung tema sentral Semangat Sumpah Pemuda dengan judul “Jelajah Asa Nusantara, Satu langkah Seribu Warna”.
Meskipun peringatan Sumpah Pemuda secara historis jatuh pada bulan Oktober, pihak sekolah sengaja memilih momen di bulan Desember sebagai puncak ekspresi kreativitas siswa di akhir semester 1. Acara ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan persatuan sejak dini kepada para peserta didik.
Rangkaian Persembahan Seni
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian penampilan bakat siswa dari setiap kelas.
Setiap kelas memerankan organisasi yang terbentuk sebelum ikrar sumpah pemuda. Seprti Jong Java, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Sumatranen dan Jong Batak.

Deklamasi Puisi Bertema Kebangsaan:
Beberapa perwakilan siswa tampil gagah di atas panggung membacakan puisi. Dengan lantang, mereka menyuarakan bait-bait tentang persatuan bangsa, mengingatkan audiens pada ikrar sakral pemuda tahun 1928.
Paduan Suara dan Solo Vokal:
Gema lagu-lagu nasional dan daerah memenuhi area sekolah. Kelompok paduan suara kelas atas membawakan aransemen lagu “Bangun Pemudi Pemuda” dengan harmonisasi yang apik, disusul oleh penampilan solo vokal yang membawakan lagu bertema motivasi.

Tarian Tradisional dan Kreasi:
Puncak kemeriahan terlihat saat para siswa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka membawakan tarian tradisional mulai dari Tari Saman yang energetik hingga tari kreasi modern yang dipadukan dengan elemen budaya lokal.
Menanamkan Karakter Melalui Seni
Kepala Sekolah SD Islam Sabilina dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pensi ini bukan sekadar ajang hiburan semata.
“Melalui tema Sumpah Pemuda ini, kami ingin anak-anak memahami bahwa perbedaan suku dan budaya adalah kekayaan, bukan pemisah. Lewat puisi, lagu, dan tari, mereka belajar menghargai identitas bangsa sekaligus melatih kepercayaan diri di depan publik selain itu anak-anak dapat mengetahui sejarah lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa Persatuan.
SRI PUJIASTUTI, S.Pd



